Sejuta Cerita di Gunung Bromo

Aku teguk habis segelas susu coklat dikala suatu artikel tentang bromo di suatu akun instagram terpampang di layar gawai. Perihal itu mendadak menegaskan aku hendak manisnya memori liburan di bromo kala itu. Ah, rasanya telah lama sekali. Januari 2015, berarti telah nyaris 4 tahun semenjak liburan aku ke wisata gunung Bromo bareng Ayu, Andri, serta Evelyn. Tetapi, masih terbayang jelas tiap sudut keindahannya. Rasanya, aku tidak sempat memandang panorama alam secantik itu di Jawa.
Aku buka folder“ Wisata Gunung Bromo” di laptopku. Terpampang ratusan file gambar senyuman- senyuman senang aku serta Ayu, dengan latar balik kawasan bromo tengger semeru dari bermacam sisi. Sumpah, Bromo keren banget. Terlebih dikala memandang kaldera besar yang di tengahnya masih ada 2 gundukan tanah yang membentuk gunung bromo serta gunung batok. Dan sebagian hektar sabana serta lautan pasir di sekelilingnya open trip bromo dari surabaya .
Aku masih ingat, ekspedisi berliku dari rumah Andri di Probolinggo mengarah kawasan wisata gunung Bromo. Jalanan terus naik bersamaan menyusutnya temperatur hawa dan terus menjadi hijaunya panorama dari balik kaca mobil. Tidak terasa, 2, 5 jam terasa kilat sekali lalu serta kami juga datang di suatu homestay tidak jauh dari gerbang kawasan bromo tengger semeru.
Aku masih ingat, dikala kaki telanjang tidak sanggup menahan dinginnya keramik di homestay. Dengan ketinggian di atas 2. 000 m dpl, pasti dinginnya telah sanggup menusuk tulang. Tidak butuh AC di mari, yang kita perlukan cumalah selimut tebal nan hangat. Serta tidak kurang ingat air hangat buat mandi, jika tidak ingin badanmu beku, ahaha..
Aku masih ingat, dikala awal kalinya mata ini menangkap panorama kaldera yang sangat indah. Rasa- rasanya, ini kaldera awal yang aku amati hingga dengan dikala itu. Suatu tempat indah yang terbentuk dari kejadian alam. Jika dibayangkan, begitu dahsyat letusan gunung ini jaman dulu kala. Namun, keelokan yang terbentuk setelahnya, sanggup meninggalkan decak kagum dari siapapun yang melihatnya.
Aku masih ingat, dikala roda- roda Toyota Land Cruiser yang kami naiki, dengan tangguhnya menembus lautan pasir. Pasir berbisik, begitulah nama populernya. Hembusan- hembusan angin yang menerpa serta menerbangkan butiran- butiran pasir, kayaknya menghasilkan bunyi serta siulan. Bisa jadi seperti itu yang mengilhami di balik pemberian nama pasir berbisik yang menginspirasi suatu karya film layar lebar. Bisa jadi.
Aku pula masih ingat, dikala kembali lagi mata ini terbuat kagum. Sehabis melewati tandusnya lautan pasir, seketika di ujung situ timbul perbukitan hijau. Bukit berundak dengan hamparan rumput hijau bagaikan permadani. Tidak kurang ingat pohon- pohon pinus mulai berkembang memamerkan keindahannya.
Aku masih ingat, dikala hati ini begitu excited mendaki m demi m tanah kering yang elevasinya terus menjadi besar, demi menggapai puncak gunung bromo.“ Terdapat apa sih di puncaknya? Gimana sih panorama dari atas?”. Begitulah sebagian persoalan di hati yang tidak tabah buat lekas aku temukan jawabannya.
Sesampainya di atas, aku terpana memandang kawah gunung berapi aktif awal yang aku amati, serta dikala ini masih jadi salah satunya kawah gunung berapi aktif yang aku amati langsung. Bau belerang menusuk kokoh, tetapi tidak membuat pesona bromo luntur. Gunung batok di sebelahnya jadi tempat yang ciamik buat dijadikan latar balik gambar kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *